I.
Hubungan Interpersonal
1. Model Pertukaran
Sosial dan Analisis Transaksional
Menjalin hubungan
interpersonal merupakan keharusan bagi individu sebagai makhluk sosial.
Individu membutuhkan dan senantiasa berusaha membuka serta menjalin hubungan
interpersonaldengan sesainanya. Ada sejumlah kebutuhan di dalam diri individu
yang hanya dapat dipuaskan melalui hubungan interpersonal dengan orang lain
(Supratiknya, 1995), salah satunya adalah kebutuhan untuk beraliliasi yaitu
kebutuhan mendekatkan diri, bekerja sama dengan orang lain, patuh dan tetap
setia pada seorang kawan (Murray, dalam Hall and Lindzey, 1993).
Model pertukaran sosial
adalah ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur
ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling mempengaruhi. Teori ini
menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain
sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap:
• Keseimbangan antara
apa yang diberikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan
itu.
• Jenis hubungan yang
dilakukan.
• Kesempatan memiliki
hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
Analisis Transaksional
adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan
interaksional. Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi
individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini
menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan
dan arahproses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi
ini menekankanpentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka
proses terapimengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan
keputusan baru,guna kemajuan hidupnya sendiri. Teori analisis transaksional
merupakan karya besar Eric Berne (1964), yang ditulisnya dalam buku Games
People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenaldari kelompok
Humanisme. Analisis Transaksional berakar dalam suatu filsafat anti
deterministik yang memandang bahwa kehidupan manusia bukanlah suatu yang sudah
ditentukan. Analisis Transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa
orang mampu memahami keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat
memilih untuk memutuskan.
2. Pembentukkan Kesan
dan Ketertarikan Interpersonal dalam Memulai Hubungan
Pembentukan kesan
pertama dalam dimulainya suatu hubungan sangat vital bagi kelangsungan suatu
hubungan untuk ke depannya. Cara kita berbicara, cara memilih pemakaian kata
atau kalimat, cara kita bersikap, serta kepercayaan diri kita adlah sebagian
besar faktor pembentukan kesan.
3. Model Peran, Konflik
dan Adequency Peran, serta Autentisitas dalam Hubungan Peran.
v Model
Peran
Terdapat tiga asumsi
yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan
nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar
lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
• Secara implicit
bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan
menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’.
• Kedua, bermain peran
memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak
dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk
mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain
peran yang lebih menekankan pada penyembuhan).
• Ketiga model bermain
peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai,
perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi
pemeranan secara spontan.
v Konflik
Konflik adalah adanya
pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan
orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad
perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the presence of tension), atau
munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik
sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana
pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan
pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.
v Adequancy
peran & autentisitas dalam hubungan peran
Kecukupan perilaku yang
diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik
secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi (
ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus
lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka
sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
4. Intimasi dan
Hubungan Pribadi
Intimasi dapat
diartikan sebagai kedekatan atau keakraban dengan orang lain. Intimasi dalam
pengertian yang lebih luas telah banyak dikemukan oleh para ahli, yaitu :
1. Shadily dan Echols
(1990) mengartikan intimasi sebagai kelekatan yang kuat yang didasarkan oleh
saling percaya dan kekeluargaan. Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan
intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk
mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg
(1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional
antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan
untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat
sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
2. Intimasi menurut
Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1988) merupakan suatu bentuk hubungan
yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua
individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi, bukan saja pada
hal-hal yang berkaitan dengan fakta-fakta umum yang terjadi di sekeliling
mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti berbagi pengalaman hidup,
keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan dan filosofi dalam hidup. Pada
tahap ini akan terbentuk perasaan atau keinginan untuk menyayangi,
memperdulikan, dan merasa bertangung jawab terhadap hal-hal tertentu yang
terjadi pada orang yang dekat dengannya.
3. Atwater (1983)
mengemukakan bahwa intimasi mengarah pada suatu hubungan yang bersifat
informal, hubungan kehangatan antara dua orang yang diakibatkan oleh persatuan
yang lama. Intimasi mengarah pada keterbukaan pribadi dengan orang lain, saling
berbagi pikiran dan perasaan mereka yang terdalam. Intimasi semacam ini
membutuhkan komunikasi yang penuh makna untuk mengetahui dengan pasti apa yang
dibagi bersama dan memperkuat ikatan yang telah terjalin. Hal tersebut dapat
terwujud melalui saling berbagi dan membuka diri, saling menerima dan
menghormati,serta kemampuan untuk merespon kebutuhan orang lain (Harvey dan
Omarzu dalam Papalia dkk,2001).
4. Proses intimasi
perlu untuk memasukkan unsur perasaan bersatu dengan orang lain. Kebutuhan
untuk bersatu dengan orang lain merupakan pendorong yang sangat kuat bagi
individu untuk membentuk suatu hubungan yang kuat, stabil, dekat dan
terpelihara dengan baik (Papalia dkk, 2001). Kedekatan perasaan seperti ini
dapat menimbulkan suatu hubungan yang erat dimana hubungan ini sebagai lambang
dari empati (Parrot dan Parrot, 1999).
Kebutuhan intimasi
merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan orang lain dan merupakan
kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang secara
lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat,
keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki
sehingga terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Proses terbentukan
intimasi:
Penerimaan diri
Saling berinteraksi, Memberi respon atau tanggapan – Perhatian, Rasa
percaya Kasih sayang Mempunyai minat yang sama.
II.
Cinta dan Perkawinan
Memilih Pasangan
Dalam memilih pasangan
hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih
yang paling tepat sebagai pasangannya. Maka dari itu harus benar-benar
diperhitungkan ketika memilih pasangan yang baik. Bila ingin pintar, seseorang
harus rajin belajar, bila ingin kaya seseorang harus berhemat, begitu pula
tentang pasangan hidup. Bila menginginkan pasangan hidup yang baik maka kita
juga harus baik.
Tidak ada sesuatu di
dunia ini yang dapat dengan mudah kita peroleh tanpa adanya pengorbanan. Segala
sesuatu ada harga-nya termasuk bila ingin mendapatkan pasangan hidup yang baik.
Ya, dimulai dari diri sendiri. Bila kita bercita-cita untuk mendapatkan
pasangan hidup yang baik, maka kita sendiri harus baik. Percayalah, Tuhan telah
memasangkan manusia sesuai dengan karakter dan derajat mereka masing-masing.
Manusia yang baik hanyalah untuk manusia yang baik pula, begitu pula
sebaliknya.
Julianto Simanjuntak
dalam bukunya, menekankan bahwa dalam memilih pasangan harus ada kesepadanan alias
kecocokan. Karena ketika pada awal-awal berpacaran, kita sering lupa mengenali
kepribadian dan latar belakang pasangan. Jadi, cinta itu bukan hanya sekedar
mencintai atau dicintai. Tapi juga dituntut memahami latar belakang dan
kepribadian pasangan anda dengan sepenuhi hati.
Hubungan Dalam
Perkawinan
Dawn J. Lipthrott,
LCSW, seorang psikoterapis dan juga marriage and relationship educator and
coach, mengatakan bahwa ada lima tahap perkembangan dalam kehidupan perkawinan,
yaitu :
Tahap pertama : Romantic
Love
Tahap ini adalah saat
Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di
saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan
kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.
Tahap kedua :
Dissapointment or Distress
Masih menurut Dawn, di
tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah
dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.
Terkadang salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk
mengalihkan perasaan stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang
lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai
dengan minat dan kebutuhan masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa
pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan
dengan pasangannya. Banyak pasangan di
tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.
Tahap ketiga :
Knowledge and Awareness
Dawn mengungkapkan
bahwa pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami
bagaimana posisi dan diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi tentang bagaimana
kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Menurut Dawn juga, pasangan yang sampai di
tahap ini biasanya senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga
kepada pasangan lain yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan
konsultasi perkawinan.
Tahap keempat:
Transformation
Suami istri di tahap
ini akan mencoba tingkah laku yang
berkenan di hati pasangannya. Anda akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang
tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman
yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam mensikapi perbedaan yang
terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan penghargaan,
empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan
tentram.
Tahap kelima: Real Love
Psikoterapis ini
menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah
digunakan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri
semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real
love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki
keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya
tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.
Hubungan dalam
pernikahan bisa berkembang dalam tahapan yang bisa diduga sebelumnya. Namun
perubahan dari satu tahap ke tahap berikut memang tidak terjadi secara mencolok
dan tak memiliki patokan batas waktu yang pasti. Bisa jadi antara pasangan suami-istri, yang
satu dengan yang lain, memiliki waktu berbeda saat menghadapi dan melalui
tahapannya.
Penyesuaian dan
Pertumbuhan dalam Perkawinan
Hirning dan Hirning
(1956) mengatakan bahwa penyesuaian perkawinan itu lebihkompleks dibandingkan
yang terlihat. Dua orang memasuki perkawinan harus menyesuaikan satu sama lain
dengan tingkatan yang berbeda-beda. Untuk tingkat organismik mereka harus
menyesuaikan diri dengan sensori, motor, emosional dan kapasitas intelektual
dan kebutuhan. Untuk tingkat kepribadian, masing-masing mereka harus
menyesuaikan diri dengan kebiasaan, keterampilan, sikap, ketertarikan,
nilai-nilai, sifat, konsep ego, dan kepercayaan. Pasangan juga harus menyesuaikan
dengan lingkungan mereka, termasuk rumah tangga yang baru, anak-anak, sanak
keluarga, teman, dan pekerjaan.
Lasswell dan Lasswell
(1987) mengatakan bahwa konsep dari penyesuaianperkawinan adalah bahwa dua
individu belajar untuk saling mengakomodasikan kebutuhan, keinginan, dan
harapan.
Dari uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa penyesuaian perkawinan adalah dua orang memasuki tahap
perkawinan dan mulai membiasakan diri dengan situasi baru sebagai suami istri
yang saling menyesuaikan dengan kepribadian, lingkungan,kehidupan keluarga, dan
saling mengakomodasikan kebutuhan, keinginan dan harapan.
Banyak faktor sosial
dan demografis yang ditemukan memiliki hubungan dengan penyesuaian perkawinan
(Dyer, 1983). Berikut ini beberapa hal yang mempengaruhi penyesuaian perkawinan
:
Usia
Udry dan Schoen (dalam
Dyer, 1983)mengatakan bahwa penyesuaian pekawinan rendah apabila pasangan
menikah pada usia yang sangat muda, yaitu laki-laki di bawah 20 tahun dan
wanita di bawah 18 tahun. Mereka dihadapkan pada tuntutan dan beban seputar
perkawinan, dimana bisa menyebabkan rasa kecewa, berkecil hati, dan tidak
bahagia. Penelitian juga mengatakan bahwa dalam ketidakmatangan, cenderung
untuk melihat perkawinan dari segi romantismenya dan kurang persiapan untuk
menerima tanggung jawab dari perkawinan tersebut.
Tapi dalam hal
perbedaan usia, penelitian ditemukan tidak terlalu meyakinkan. Ada penelitian
menemukan bahwa akan lebih menguntungkan bagi pasangan yang memiliki usia yang
sama (Locke; Blode & Wolfe, dalam Dyer, 1983), namun pada penelitian lain
juga ditemukan bahwa usia yang berbeda tidak memiliki pengaruh yang signifikan
dalam penyesuaian pekawinan (Udry, Nelson & Nelson, dalam Dyer, 1983).
Agama
Hubungan antara agama
dan penyesuaianperkawinan sudah diselidiki sepanjang tahun. Walaupun begitu,
selalu ditemukan hasil yang berbeda-beda dan selalu tidak konsisten. Terman
(dalam Dyer, 1983) menyimpulkan bahwa latar belakang agama dari pasangan bukan
faktor yang berarti dalam kebahagiaan perkawinan. Pada penelitian pernikahan
beda agama (Christensen & Barber; Glenn, dalam Dyer, 1983) ditemukan bahwa
pernikahan beda agama antara Katolik, Yahudi, dan Protestan sedikit kurang
bahagia dibandingkan pernikahan dengan agama yang sama di ketiga agama
tersebut.
Ras
Sejauh ini tidak ada
penelitian khusus penyesuaian perkawinan dimana perkawinan antar ras sebagai
variabelnya. Walaupun ada opini terkenal yang mengatakan bahwa perkawinan antar
ras penuh resiko, sebenarnya secara statistik sangat sedikit yang mendukung
pandangan ini (Udry, dalam Dyer, 1983). Penelitian yang dilakukan Monahan
(dalam Dyer, Universitas Sumatera Utara331983) pada perkawinan antar ras di
Iowa, ditemukan bahwa perkawinan antar kulit hitam dan putih lebih stabil
daripada perkawinan kulit hitam dan hitam; dia juga menemukan bahwa perkawinan
dengan suami kulit hitam dan istri kulit putih memiliki rata-rata perceraian
yang rendah dibandingkan dengan rata-rata perceraian pada perkawinan kulit
putih dan putih.
Dimana perbedaan sosial
dan kultur masih tetap ada dan larangan pada perkawinan antar ras masih kuat,
mereka berusaha untuk tahan menghadapi larangan dan berusaha kuat untuk
menghadapi sangsi yang ada dari kelompok ras mereka masing-masing.
Pendidikan
Data dari survei
nasional mengatakan bahwa pendidikan tidak selamanya menjadi faktor yang
penting dalam penyesuaian perkawinan. Glenn dan Weaver (dalam Dyer, 1983)
menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara lamanya mengecap pendidikan
dengan kebahagiaan perkawinan.
Penelitian terhadap
perbedaan pendidikan pada pasangan dengan penyesuaian perkawinan belum
sepenuhnya jelas, karena ada pendapat yang mengatakan bahwa pasangan dengan
tingkat pendidikan yang sama akan lebih puas dengan perkawinannya dan hasil
penelitian yang lain juga mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara perbedaan
tingkat pendidikan suami istri dengan penyesuaianperkawinan (Terman; Burgess
& Wallin, dalam Dyer, 1983).
Keluarga Pasangan
Salah satu hal yang
harus dihadapioleh pasangan yang baru menikah adalah bagaimana mengatasi hubungan
selanjutnya dengan orang tua dan sanak saudara setelah menikah. Beberapa
penelitian dalam hal saudara istri atau suami mengindikasikan bahwa masalah ini
lebih mempengaruhi wanita daripada pria (Duvall; Komorovsky, dalam Dyer, 1983).
Ibu mertua dan kakak ipar lebih cenderung sebagai masalah dalam ketidakcocokan
dari pada bapak mertua dan abang ipar. Inti dalam perselisihan biasanya
menyangkut aktifitas dan peran wanita dalam rumah tangga.
Perceraian dan
Pernikahan Kembali
Menikah Kembali setelah
perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena
orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam
perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah
yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin
pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat
mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.Sebagai manusia, kita memang
mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang
baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode
tertentu akan kehilangan daya tariknya.
Penelitian menunjukan
bahwa penduduk lansia Amerika hampir akan berlipat ganda pada tahun 2050,
menurut laporan Pew Research. Seperti baby boomer memasuki masa pensiun,
perhatian ada siapa yang akan merawat mereka dengan bertambahnya usia mereka.
Secara tradisional, anak-anak telah menerima tanggung jawab pengasuhan, tapi
peran-peran pengasuhan menjadi kabur karena keluarga lebih banyak terpengaruh
oleh perceraian dan pernikahan kembali dibandingkan dekade sebelumnya. Lawrence
Ganong, seorang profesor dan co-kursi di Departemen MU Pembangunan Manusia dan
Studi Keluarga di Fakultas Ilmu Lingkungan Manusia (HES), mempelajari bagaimana
perceraian dan pernikahan kembali mempengaruhi keyakinan tentang siapa yang
harus merawat kerabat penuaan. Dia menemukan bahwa kualitas hubungan, riwayat
saling membantu, dan keputusan sumber daya mempengaruhi ketersediaan tentang
siapa yang peduli untuk orang tua dan orang tua tiri.
Menikah Kembali setelah
perceraian bisa menjadi kan pengalaman, tinggalkan masa lalu dan berharap untuk
masa depan yang lebih baik lagi dari pernikahan sebelumnya.
Alternatif selain
Pernikahan
Batasan usia untuk menikah
kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir
juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah.
Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan.
Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup
melajang. Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah
tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama
menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak
pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu
kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan
cemburu.
Banyak pria menempatkan
pernikahan pada prioritas kesekian, sedangkan karir lebih mendapat prioritas
utama. Dengan hidup melayang, mereka bisa lebih konsentrasi dan fokus pada
pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan jabatan lebih mudah diperoleh.
Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja lembur dan tugas ke luar kota dalam
jangka waktu yang lama, dibandingkan karyawan yang telah menikah.
Melajang adalah sebuah
sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati hidupnya. Pelajang
akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah menemukan seorang
yang telah cocok di hati.
Peran Cinta dalam
Kesehatan Mental
I. Romantic Love
Saat ini adalah saat
Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini terjadi di
saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan
kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.
II. Dissapointment or
Distress
Di tahap ini pasangan
suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada
pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang salah
satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan
stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan
perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan
kebutuhan masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa pasangan
suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan dengan
pasangannya. Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan pasangannya.
III. Knowledge and
Awareness
Pasangan suami istri
yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri
pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi tentang bagaimana
kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Pasangan yang sampai di tahap ini biasanya
senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain
yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan konsultasi perkawinan.
IV. Transformation
Suami istri di tahap
ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya. Anda akan
membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap
ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan
dalam mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling
menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan
perkawinan yang nyaman dan tentram.
V. Real Love
“Anda berdua akan
kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan
kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis ini menjelaskan pula
bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk
saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati
cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah
mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk
mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa adanya
usaha Anda berdua,” ingat Dawn.
III.
Pekerjaan & Waktu Luang
1. Menceritakan karakteristik pribadi
kalian dan karakteristik pekerjaan dalam mencari pekerjaann yang cocok buat
kalian
Karakteristik saya,
saya tipe orang yang jika sudah janji tapi di batalkan begitu saja itu bisa membuat
saya kesal dan bisa mencuekkan orang, menurut orang yang belum kenal saya mereka
menilai saya jutek tapi kalau sudah dekat bisa di bilang menjadi ramai, di dalam
jadwal kuliah saya agak lemah di mata kuliah yang berhitung, saya tipe orang
yang melihat orang nangis bisa ke ikut suasana nangis juga karena saya tidak
tegaan melihat orang sedih, saya sangat
pemalu kalau belum bener bener dekat sama seseorang, menatap mata dengan yang
belum bener bener dekat pun saya bisa mengalihkan mata saya. Karakteristik pekerjaan
yang cocok menurut saya, pengusaha, dulu sempat berfikir jika saya punya uang
yang lebih saya ingin membantu, menolong orang yang ke susahan, memberikan
rejeki yang saya punya untuk di sumbangkan, pasti masih banyak orang yang susah
mendapatkan rejeki dan makan, ataupun bahagia seperti yang lain, dan membukakan
lapangan pekerjaan bagi orang yang belum dapat bekerja ataupun yang di phk. Walaupun
agak berbeda dari bidang perkuliahan saya tapi karakter ini masih masuk ke
dalam ‘Psikologi Sosial’. Karakteristik pekerjaan yang saya inginkan juga,
menjadi dokter jiwa/psycholog, bisa mengetahui keluhan yang di alami seseorang
dari apa yang dia rasa, pasti dari orang ke orang mempunyai masalah yang
berbeda-beda dan membuat saya mempunyai pengalaman yang berbeda-beda juga, dan
bisa memberikan solusi untuk memecahkan masalah mereka.
2.
Menceritakan bagaimana kalian
menggunakan waktu luang secara positif
Menggunakan waktu luang jika di rumah membantu orang tua, mendengarkan musik, menonton, bercanda dengan keluarga, jika sedang di luar jalan-jalan, kuliner, mengobrol dengan teman.
Menggunakan waktu luang jika di rumah membantu orang tua, mendengarkan musik, menonton, bercanda dengan keluarga, jika sedang di luar jalan-jalan, kuliner, mengobrol dengan teman.
Daftar Pustaka
Suyono, Hadi.(2008).Pengantar psikologi sosial
1.Yogyakarta: D&H Pro Media Yogyakarta
Sujanto,
Agus.(1991).Psikologi Umum.Jakarta: Bumi Aksara.1. Bagaimana memilih pasangan
Julianto,Simanjuntak.2012.
Banyak Cocok Sedikit Cekcok, Seni Memilih Teman Hidup dan Berpacaran
Dewasa.Jakarta:Yayasan Peduli Konseling Nusantara (PELIKAN)
Wirawan, Sarlito S.
2002. Individu dan teori-teori psikologi social. Jakarta: Balai Pustaka
Aronson ,Elliot
.(2005).social psychology .upper saddle river :person prentice hall
Hall, S Calvin.,
Lindzey , Gardner., (2009). teori - teori psikodinamika, yogyakarta:kanisius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar